Masyarakat pesisir kabupaten batubara hadapi tantangan dan peluang di tengah perubahan iklim dan pembangunan maritim

11 May 2026 Nelayan Admin PKPM
Masyarakat pesisir kabupaten batubara hadapi tantangan dan peluang di tengah perubahan iklim dan pembangunan maritim

Batu Bara, Sumatera Utara - Masyarakat pesisir di Kabupaten Batu Bara tengah menghadapi berbagai tantangan sekaligus peluang seiring meningkatnya perhatian pemerintah terhadap sektor kelautan dan perikanan. Kabupaten yang terletak di pesisir timur Sumatera Utara ini memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 60 kilometer, yang menjadi tumpuan hidup ribuan nelayan dan keluarganya. 

 

Di tengah potensi laut yang melimpah, seperti ikan, udang, dan hasil laut lainnya, masyarakat pesisir masih bergelut dengan berbagai persoalan klasik, mulai dari keterbatasan infrastruktur, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, hingga keterbatasan akses terhadap teknologi penangkapan ikan yang modern. "Kadang hasil melaut tak menentu, apalagi kalau cuaca buruk. Tapi inilah satu-satunya pekerjaan yang kami bisa andalkan," ujar Hendra, seorang nelayan di Desa Lalang, Kecamatan Medang Deras. 

 

Pemerintah Kabupaten Batu Bara sendiri telah menggulirkan sejumlah program pemberdayaan masyarakat pesisir, seperti bantuan alat tangkap ramah lingkungan, pelatihan budidaya perikanan, serta program penguatan koperasi as nelayan. Selain itu, pembangunan Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung juga diharapkan dapat membawa dampak positif bagi ekonomi masyarakat lokal, khususnya sektor logistik dan perikanan. Namun, sebagian warga berharap agar pembangunan tersebut tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan hidup nelayan tradisional. "Kami ingin dilibatkan dan tidak tersisih. 

 

Laut adalah rumah kami," kata Ibu Salma, seorang pengolah hasil laut di Kecamatan Tanjung Tiram. Selain tantangan ekonomi, masalah abrasi dan pencemaran laut juga menjadi perhatian utama. Beberapa desa pesisir mengalami penyusutan garis pantai setiap tahun, mengancam pemukiman warga dan tambak-tambak mereka. Pemerhati lingkungan dan akademisi dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Rahmat Hidayat, menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan berbasis masyarakat. "Penguatan kapasitas nelayan, konservasi mangrove, serta tata kelola laut yang inklusif sangat penting untuk keberlangsungan hidup masyarakat pesisir Batu Bara ke depan," ujarnya. Ke depan, sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta diharapkan dapat menciptakan pembangunan pesisir yang adil, berkelanjutan, dan berbasis kearifan lokal.

Bagikan Berita Ini:

Berita Terkait

Pusat Kecemerlangan Mendorong Inovasi

Pusat Kecemerlangan Mendorong Inovasi

Baca
SINDROM TOGA DAN SARJANA PENCARI KERJA

SINDROM TOGA DAN SARJANA PENCARI KERJA

Baca
Desa mandiri berbasis pemuda suatu harapan

Desa mandiri berbasis pemuda suatu harapan

Baca